Dedikasi Kecintaan
Masa begitu menghambati, sedang saya masih tak ingin bercerai, walau sesaat daripadanya. Seperti tidak terlontarkan ucapan selamat ini, biarpun malam telah dinihari. Namun, sekujur jasad sudah merintih memohon kerehatan, tidak berdaya lagi.
I
Maka, dengan seluruh upaya kecintaan dalam keterpaksaan saya ungkapkan kata-kata ini:
"Selamat malam, Tuan Pengarang yang bijaksana. Jangan lupa susuli saya dalam mimpi seketika nanti. Suburkan jiwa saya dengan tutur keramat yang membajai takwa. Damaikan jiwa gundah dengan tutur keramat yang menyubur iman; dan jangan pernah tinggali saya sampai saat saya terjaga Subuh nanti dengan izin-Nya."
Seketika saya melihat senyum di wajahnya; senyuman yang menawar seribu harapan. Saya ulangi kalam yang sama sebelum terlelap bahagia. Moga esok masih milik saya untuk terus menelaah bait-bait bermaknanya!
Selamat malam, Tuan Pengarang yang bijaksana. Kerahmatan daripada Allah buatmu selama-lamanya.
I
Maka, dengan seluruh upaya kecintaan dalam keterpaksaan saya ungkapkan kata-kata ini:
"Selamat malam, Tuan Pengarang yang bijaksana. Jangan lupa susuli saya dalam mimpi seketika nanti. Suburkan jiwa saya dengan tutur keramat yang membajai takwa. Damaikan jiwa gundah dengan tutur keramat yang menyubur iman; dan jangan pernah tinggali saya sampai saat saya terjaga Subuh nanti dengan izin-Nya."
Seketika saya melihat senyum di wajahnya; senyuman yang menawar seribu harapan. Saya ulangi kalam yang sama sebelum terlelap bahagia. Moga esok masih milik saya untuk terus menelaah bait-bait bermaknanya!
Selamat malam, Tuan Pengarang yang bijaksana. Kerahmatan daripada Allah buatmu selama-lamanya.
